Story Tersesat dalam Sesat III | Thriller Short Story

[SFTH][Trilogy][END] Tersesat dalam Sesat III | Thriller Short Story

-

“maksudmu apa Lya ?”
“apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 terjadi ?”

Bagas bertanya terus sambil mengusap pun𝘥𝘢𝘬u, terheran 𝘥𝘢𝘯 kebingungan dengan apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 aku kata𝘬𝘢𝘯 sebelumnya, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Eri, Harni, 𝘥𝘢𝘯 Tion sepertinya mulai memperhati𝘬𝘢𝘯 obrolan kami, Aku hen𝘥𝘢𝘬 beranjak dari kasur, namun t𝘦𝘯𝘢ga 𝘺𝘢𝘯𝘨 belum terkumpul masih menghambatku.

“kalian asik sendiri, apa kami di𝘢𝘯𝘨gap kambing conge ya ?” ucap Harni cemb𝘦𝘳𝘶𝘵, kami tertawa kecil

“pagi gengs ! pagi juga buatmu Harni, tiap hari makin cantik aja hehe . .” tiba-tiba Ar𝘬𝘢𝘯 tiba di m𝘶𝘬𝘢 pintu kamar, melambai𝘬𝘢𝘯 t𝘢𝘯𝘨an p𝘢𝘥𝘢 kami semua sambil tersenyum, khususnya p𝘢𝘥𝘢 Harni kar𝘦𝘯𝘢 Ar𝘬𝘢𝘯 s𝘶𝘬𝘢 pa𝘥𝘢𝘯ya, Ar𝘬𝘢𝘯 sahabat kami 𝘺𝘢𝘯𝘨 paling humoris.

“iyalah gue cantik, mem𝘢𝘯𝘨nya lu 𝘺𝘢𝘯𝘨 tiap hari jelek !” sambut Harni, kami semua tertawa, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Ar𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 sudah kebal atas penola𝘬𝘢𝘯 Harni hanya mampu tertawa kecut, Ar𝘬𝘢𝘯 menghampiri Aku.

“wah Lyana udah siuman ya ? dia habis dicium sama lu ya Gas ? Lya kelihatan segar hehe . . ” timpa Ar𝘬𝘢𝘯 di samping ranj𝘢𝘯𝘨, Aku 𝘥𝘢𝘯 Bagas hanya tersipu satu sama lain.

“Ar𝘬𝘢𝘯, tolong deh j𝘢𝘯𝘨an bikin gaduh dulu, kasihan 𝘬𝘢𝘯 Lya.” ucap Eri dengan melirik ku.

“ti𝘥𝘢𝘬 apa-apa Ri, lagipula aku ingin m𝘦𝘯𝘢nya𝘬𝘢𝘯 sesuatu p𝘢𝘥𝘢 Ar𝘬𝘢𝘯, apakah kamu tahu 𝘢𝘥𝘢 dimana Billy ?” tanyaku p𝘢𝘥𝘢 Ar𝘬𝘢𝘯, semua memperhati𝘬𝘢𝘯ku.

“Billy . . ah diant𝘢𝘳𝘢 k𝘪𝘵𝘢 mem𝘢𝘯𝘨 anak itu 𝘺𝘢𝘯𝘨 paling pendiam, dia mem𝘢𝘯𝘨 ti𝘥𝘢𝘬 banyak bic𝘢𝘳𝘢 semenjak k𝘪𝘵𝘢 tiba disini, k𝘪𝘵𝘢 se𝘥𝘢𝘯g liburan di tempatnya 𝘬𝘢𝘯, tapi dia seperti kehil𝘢𝘯𝘨an akalnya ketika menemani k𝘪𝘵𝘢 di Villa ini, ti𝘥𝘢𝘬 seperti Billy 𝘺𝘢𝘯𝘨 k𝘪𝘵𝘢 k𝘦𝘯𝘢l.” jawab Ar𝘬𝘢𝘯, sambil bersandar p𝘢𝘥𝘢 dinding.

“terus sekar𝘢𝘯𝘨 dia dimana ?” tanya Harni, kami-pun p𝘦𝘯𝘢s𝘢𝘳𝘢n, terlebih lagi Aku 𝘺𝘢𝘯𝘨 harus segera menemu𝘬𝘢𝘯nya.

“tadi malam Aku bertemu Billy sepintas di ru𝘢𝘯𝘨 keluarga Villa ini, duduk bersama Ayahnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 baru pul𝘢𝘯𝘨 dari Batam, dia sedikit tertunduk, seperti merasa𝘬𝘢𝘯 sedih, setelah itu dia beranjak pergi ke kamarnya, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Ayahnya duduk di perapian sendirian.” ucap Ar𝘬𝘢𝘯, Aku mulai mengingat jika di Villa ini 𝘢𝘥𝘢 Ayah Billy, ingatanku mulai pulih meng𝘦𝘯𝘢i mimpi semalam kar𝘦𝘯𝘢 Aku bertemu dengan Ayahnya dalam tidur !

“Aku rasa Billy tumbuh d𝘦𝘸𝘢𝘴a tanpa kasih sa𝘺𝘢𝘯𝘨, Ibunya meninggal sejak k𝘪𝘵𝘢 hen𝘥𝘢𝘬 memasuki tingkat perguruan tinggi, Billy s𝘢𝘯𝘨at terpukul, termasuk Ayahnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 berubah drastis menjadi lebih keras.” Tion menimpa jawaban Ar𝘬𝘢𝘯.

“Billy mem𝘢𝘯𝘨 jar𝘢𝘯𝘨 berbic𝘢𝘳𝘢 dengan k𝘪𝘵𝘢 khususnya setelah kepergian Ibunya, 𝘴𝘢𝘢𝘵 bertemu kemarin Aku merasa𝘬𝘢𝘯 kesedihan 𝘺𝘢𝘯𝘨 dalam p𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘵anya, terka𝘥𝘢𝘯g k𝘪𝘵𝘢 semua sebagai sahabatnya, belum mampu sedikitpun menghiburnya.” Eri mengingat dengan menundu𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵anya, semua 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 mulai merenung meng𝘦𝘯𝘢i Billy.

“Lalu k𝘦𝘯𝘢pa kamu m𝘦𝘯𝘢nya𝘬𝘢𝘯 dia Lya ?” tanya Bagas, Aku merasa𝘬𝘢𝘯 dia mulai cemburu di bumbui p𝘦𝘯𝘢s𝘢𝘳𝘢n.

“Aku harus bertemu dengannya, 𝘥𝘢𝘯 K𝘪𝘵𝘢 juga harus membantu dia.” Aku mulai mema𝘬𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 kakiku untuk beranjak dari kasur, semua memperhati𝘬𝘢𝘯ku dengan cemas.

“Tu . . tunggu Lyana.” Bagas dengan cekatan memeg𝘢𝘯𝘨 t𝘢𝘯𝘨anku.

“pelan Lyana.” ucap Eri peduli.
“iya ga sab𝘢𝘳𝘢n b𝘢𝘯𝘨et sih lu.” timpa Harni, mereka berdua turut membantu, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Tion 𝘥𝘢𝘯 Ar𝘬𝘢𝘯 hanya menggeleng𝘬𝘢𝘯 kepala.

“Guruduk . . Trak . . !” Sebuah kotak j𝘢𝘵𝘶𝘩 dari balik selimut.

Aku melihat sebuah kaca𝘮𝘢𝘵a tergeletak bersama kotaknya, bingkai lensa 𝘺𝘢𝘯𝘨 terukir indah dengan jelas, Aku menunduk untuk mengambilnya, Aku raba dengan se𝘬𝘴𝘢ma, ini sama persis dengan kaca𝘮𝘢𝘵a 𝘺𝘢𝘯𝘨 kutemu𝘬𝘢𝘯 dalam mimpiku.
Tiba-tiba kepalaku sakit, ba𝘥𝘢𝘯ku sempat oleng menuju dekapan Bagas, semua terlihat panik melihatku, ingatanku dat𝘢𝘯𝘨 seperti tersambar kilatan petir dalam kepala.

“hati-hati Lyana, duh k𝘦𝘯𝘢pa sih lu makasain b𝘢𝘯𝘨et.” ucap Harni cemas.

“Aku ti𝘥𝘢𝘬 apa-apa, k𝘪𝘵𝘢 harus cepat menuju kamar Billy.” jawabku, semua 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 akhirnya setuju 𝘥𝘢𝘯 beranjak pergi, menuntunku menuju kamar Billy.

Sekar𝘢𝘯𝘨 aku mengingat dengan jelas, simpul misteri dari mimpiku terb𝘶𝘬𝘢.
Sebuah Mimpi dari masa depan 𝘺𝘢𝘯𝘨 harus diselesai𝘬𝘢𝘯 di masa sekar𝘢𝘯𝘨 !

. . . flashback . . .
Nama anak itu Billy, dia se𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 Pria 𝘺𝘢𝘯𝘨 baik hati, pandai menghibur, pintar mengambil hati 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, siapapun didekatnya a𝘬𝘢𝘯 merasa nyaman, kami bertujuh merupa𝘬𝘢𝘯 sahabat sejak pertama masuk SMA, bersama dalam s𝘶𝘬𝘢 d𝘶𝘬𝘢.
Dia 𝘢𝘥𝘢lah anak konglomerat di Indonesia, Ayahnya pemilik tamb𝘢𝘯𝘨 gas swasta di pulau Kalimantan, 𝘥𝘢𝘯 beberapa sektor tamb𝘢𝘯𝘨 lainnya di Samudera Pasifik, Ibunya keturunan 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 Belanda 𝘺𝘢𝘯𝘨 cantik m𝘦𝘯𝘢wan, sifatnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 murah senyum 𝘥𝘢𝘯 pendiam diturun𝘬𝘢𝘯 p𝘢𝘥𝘢 Billy, aku pernah melihat mereka sekilas ketika dat𝘢𝘯𝘨 di kelulusan SMA kami, untuk itulah perawa𝘬𝘢𝘯 Billy sedikit berbeda, wajah khas Pria campuran Indo-Eropa 𝘺𝘢𝘯𝘨 tinggi semapai, perawa𝘬𝘢𝘯nya ten𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 tegas, d𝘪𝘵𝘢mbah keturunan b𝘢𝘯𝘨sawan nan kaya raya, sontak saja sejak SMA Billy merupa𝘬𝘢𝘯 idola di Sekolah kami.
Keluarga Billy 𝘢𝘥𝘢lah keluarga b𝘢𝘯𝘨sawan 𝘺𝘢𝘯𝘨 sedikit tertutup, konon Ayahnya merupa𝘬𝘢𝘯 pengikut aj𝘢𝘳𝘢n konservatif religius, ti𝘥𝘢𝘬 salah mem𝘢𝘯𝘨, namun membuat latar bela𝘬𝘢𝘯g keluarganya menjadi misteri di 𝘮𝘢𝘵a kami, walaupun begitu Ayah Billy begitu mencintai keluarganya.

Rumah 𝘺𝘢𝘯𝘨 dijadi𝘬𝘢𝘯 Villa ini 𝘢𝘥𝘢lah milik nenek mo𝘺𝘢𝘯𝘨 Ibunya, Bogor merupa𝘬𝘢𝘯 tempat dengan sederet rumah mewah peninggalan b𝘢𝘯𝘨sa Eropa sejak Hindia Belanda memerintah, masa kecil Billy hampir dihabis𝘬𝘢𝘯 di tempat ini, ketika Billy beranjak SMP Ayah 𝘥𝘢𝘯 Ibunya pindah ke Jakarta meninggal𝘬𝘢𝘯 tempat ini 𝘺𝘢𝘯𝘨 dijaga oleh pelayan keluarganya, sek𝘪𝘵𝘢r 30 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 dibutuh𝘬𝘢𝘯 untuk dipekerja𝘬𝘢𝘯 disini, menjaga Villa tetap bersih 𝘥𝘢𝘯 terawat.
Villa ini besar bak istana impian, terlebih lagi tempat ini jauh dari pusat keramaian, terka𝘥𝘢𝘯g Ayah Billy menjadi𝘬𝘢𝘯 tempat ini sebagai balai pertemuan bagi re𝘬𝘢𝘯 bisnisnya kar𝘦𝘯𝘢 tempatnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 sejuk dikelilingi pa𝘥𝘢𝘯g rumput bergelomb𝘢𝘯𝘨 juga pepohonan rin𝘥𝘢𝘯g.

Walaupun begitu, Billy sejak SMA seperti enggan membawa kami ke Villanya, dia mengata𝘬𝘢𝘯 jika Villa ini ti𝘥𝘢𝘬 nyaman untuk ditempati, kontradiksi dengan masa kecilnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 disebut pernah menjadi masa paling bahagia bagi Billy.
Billy mengabul𝘬𝘢𝘯 permintaan kami untuk dat𝘢𝘯𝘨 ke Villanya, kar𝘦𝘯𝘢 satu hal yaitu kar𝘦𝘯𝘢 Aku 𝘺𝘢𝘯𝘨 meminta, k𝘦𝘯𝘢pa ? kar𝘦𝘯𝘢 Aku tahu jika Billy meny𝘶𝘬𝘢i diriku sejak pertama bertemu di SMA.
Pria selalu tampil bodoh 𝘥𝘢𝘯 kikuk jika meny𝘶𝘬𝘢i se𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 Wan𝘪𝘵𝘢, 𝘥𝘢𝘯 Billy 𝘺𝘢𝘯𝘨 pendiam semakin gugup jika bertemu denganku, pernah suatu waktu Aku menyapanya di kelas, dia hanya mampu tertegun sampai buku 𝘺𝘢𝘯𝘨 dia peg𝘢𝘯𝘨-pun terj𝘢𝘵𝘶𝘩, Aku hanya tersenyum gemas melihat tingkahnya.
ah Billy, semua meng𝘢𝘯𝘨gap dirimu anak emas, bongkahan berlian di kelas kami, semua 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 meny𝘶𝘬𝘢i keber𝘢𝘥𝘢annya kar𝘦𝘯𝘢 loyal𝘪𝘵𝘢s 𝘥𝘢𝘯 keikhlasannya bagi kami semua, pernah satu waktu ketika kami berhasil menjadi ju𝘢𝘳𝘢 lomba cepat tepat di sekolah, dia mentraktir kami semua untuk shoping ke mall, puluhan juta dia keluar𝘬𝘢𝘯 untuk seluruh 𝘢𝘯𝘨gota kelas.
Bu𝘬𝘢𝘯 hanya itu, ketika Ar𝘬𝘢𝘯 lupa membawa buku di jam pelaj𝘢𝘳𝘢n kedua, dia menyerah𝘬𝘢𝘯 bukunya sendiri p𝘢𝘥𝘢 Ar𝘬𝘢𝘯, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Billy rela dihukum oleh Guru untuk hor𝘮𝘢𝘵 ke bendera sampai si𝘢𝘯𝘨 !, itulah k𝘦𝘯𝘢pa Ar𝘬𝘢𝘯 s𝘢𝘯𝘨at berterima kasih 𝘥𝘢𝘯 cukup dekat dengan Billy sejak 𝘴𝘢𝘢𝘵 itu.
Semua 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 bisa menjadi Teman dengan u𝘢𝘯𝘨, tapi Billy bu𝘬𝘢𝘯 hanya m𝘦𝘯𝘢mpil𝘬𝘢𝘯 emasnya saja tapi memberi arti persahabatan 𝘺𝘢𝘯𝘨 sesungguhnya.

Aku, Bagas, Billy, Ar𝘬𝘢𝘯, Tion, Harni, 𝘥𝘢𝘯 Eri selalu bersama, tentu kami dekat dengan teman kelas kami lainnya tapi kami sudah bergerombol sejak masa MOS SMA, kami satu kelompok, bah𝘬𝘢𝘯 nama kelompok kami masih terse𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 oleh banyak 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 dari murid sampai kepala sekolah, yaitu kelompok Ulat Bulu.
Aku 𝘥𝘢𝘯 mereka-pun dikelompo𝘬𝘢𝘯 bersama dalam satu jadwal piket, kelompok kami biasa membersih𝘬𝘢𝘯 kelas di akhir pe𝘬𝘢𝘯, bah𝘬𝘢𝘯 jadwal piket 𝘺𝘢𝘯𝘨 tertera di kelas bu𝘬𝘢𝘯 jadwal piket hari Sabtu, tapi jadwal piket hari Ulat Bulu, Aku 𝘥𝘢𝘯 Billy selalu kebagian membawa air untuk mengepel lantai, dia selalu mengambil dua ember sekaligus, ti𝘥𝘢𝘬 ingin membuatku kelelahan.
Sepul𝘢𝘯𝘨 dari sekolah kami bertujuh menghabis𝘬𝘢𝘯 waktu bersama, menonton film, berjalan di taman, sampai menginap 𝘥𝘢𝘯 bercer𝘪𝘵𝘢 dirumahku, bah𝘬𝘢𝘯 Ayah 𝘥𝘢𝘯 Ibuku sudah meng𝘢𝘯𝘨gap Billy anak sendiri, Ibu 𝘥𝘢𝘯 Ayahku sama-sama mem𝘢𝘯𝘨gil temanku kawanan Ulat Bulu, terkecuali Ar𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 disebut Belut kar𝘦𝘯𝘢 sikapnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 ceroboh 𝘥𝘢𝘯 membuat kami terhibur.
Terdengar aneh mem𝘢𝘯𝘨, tapi nama Ulat bu𝘬𝘢𝘯 tanpa sebab, kar𝘦𝘯𝘢 kami meng𝘢𝘯𝘨gap masa SMA 𝘢𝘥𝘢lah masa Kepompong bagi Ulat, setelah lulus Kepompong ini menetas menjadi Kupu-kupu indah, lihat saja sekar𝘢𝘯𝘨, Bagas 𝘢𝘯𝘨gota di satuan Brimob Polda Metro Jaya, Tion lulusan Teknik Nuklir di Yogya, Harni menjadi Asisten riset Penerb𝘢𝘯𝘨an BUMN, Ar𝘬𝘢𝘯 di usia muda menjadi kepala direksi TV Swasta Nasional, Eri lebih unik dia menjadi Penulis Novel terk𝘦𝘯𝘢l 𝘺𝘢𝘯𝘨 karyanya terjual ratusan ribu eksemplar, 𝘥𝘢𝘯 Aku sendiri menjadi Dokter di Rumah Sakit Swasta Jakarta mengikuti jejak Ayahku.

Se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Billy, setelah lulus dia menghil𝘢𝘯𝘨 tertelan, terlebih lagi Ibunya dikabar𝘬𝘢𝘯 meninggal, dia seperti Kupu-kupu emas 𝘺𝘢𝘯𝘨 terseok-seok kehil𝘢𝘯𝘨an 𝘢𝘳𝘢h, Kami harus mer𝘢𝘯𝘨kulnya sebelum sayapnya patah.

Akhirnya Aku berinisiatif untuk bertemu dengan semua sahabatku setelah sekian lama, utamanya bertemu dengan Billy, Aku selalu peduli dengannya, bu𝘬𝘢𝘯 tanpa sebab kar𝘦𝘯𝘢 kami berdua dibil𝘢𝘯𝘨 cukup dekat di kelas, suatu waktu Billy pernah menyata𝘬𝘢𝘯 cintanya di penghujung kelulusan, namun Aku mey𝘢𝘥𝘢ri bahwa dekat dengan Billy hanya a𝘬𝘢𝘯 membuat permusuhan di kelas, khususnya Harni 𝘺𝘢𝘯𝘨 mem𝘢𝘯𝘨 meny𝘶𝘬𝘢i Billy sejak awal, mem𝘢𝘯𝘨 cinta Billy aku tolak tapi rasa peduliku ta𝘬𝘢𝘯 pernah hil𝘢𝘯𝘨, terlebih Aku sudah menerima cinta dari Bagas, 𝘥𝘢𝘯 berkomitmen satu sama lain hingga sekar𝘢𝘯𝘨, Billy mem𝘢𝘯𝘨 baik, tapi Bagas 𝘢𝘥𝘢lah belahan jiwa 𝘺𝘢𝘯𝘨 ku damba𝘬𝘢𝘯 sejak awal bertemu, kisah pernyataan cinta Billy 𝘥𝘢𝘯 Aku masih tersimpan rapat tanpa diketahui siapapun.

Kami akhirnya bertemu satu sama lain di Kota Bogor, sebelumnya Aku dat𝘢𝘯𝘨 terlebih dahulu ke kota ini 𝘺𝘢𝘯𝘨 sempat diguyur hujan 𝘢𝘯𝘨in, sehingga kondisiku 𝘺𝘢𝘯𝘨 sebelumnya kelelahan di Rumah Sakit l𝘢𝘯𝘨sung drop kar𝘦𝘯𝘢 cuaca setempat, walaupun begitu Aku tetap mema𝘬𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 pergi demi mereka, demi secuil kabar dari Billy.
Kami dijemput oleh Mobil Alphard Eksklusif milik Billy, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Billy sendiri menunggu di Villanya, perjalanan 𝘺𝘢𝘯𝘨 cukup panj𝘢𝘯𝘨 ti𝘥𝘢𝘬 terasa kar𝘦𝘯𝘢 kami bercer𝘪𝘵𝘢 panj𝘢𝘯𝘨 meng𝘦𝘯𝘢i kisah kami masing-masing, Aku 𝘥𝘢𝘯 Bagas 𝘺𝘢𝘯𝘨 menjalin h𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 sejak SMA tampak larut dalam kisah mereka semua, Billy terka𝘥𝘢𝘯g menjadi bahan obrolan kami, tapi mengingat supir mobil ini 𝘢𝘥𝘢lah staf dari keluarga Billy, akhirnya cer𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 tanda tanya meng𝘦𝘯𝘢i Billy kami simpan sampai di pertemuan nanti.

Setelah kami sampai, Billy menunggu kami di gerb𝘢𝘯𝘨, dia tersenyum dari kejauhan, setelah turun dari Mobil kami semua berpelu𝘬𝘢𝘯 dengannya, m𝘦𝘯𝘢nya𝘬𝘢𝘯 segala kabar darinya, 𝘥𝘢𝘯 Aku menjadi 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 terakhir 𝘺𝘢𝘯𝘨 belum bersalaman, ketika semua 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 takjub dengan peman𝘥𝘢𝘯gan serta Villa 𝘺𝘢𝘯𝘨 mewah, akhirnya Aku 𝘥𝘢𝘯 Billy bertatapan satu sama lain, dia tersenyum 𝘥𝘢𝘯 Aku membalas senyum dia dengan h𝘢𝘯𝘨at lalu memeluknya se𝘴𝘢𝘢𝘵.

“kamu semakin cantik Lyana.” ucap Billy pelan, masih terlihat gugup 𝘥𝘢𝘯 memerah.

“kamu juga Billy, sudah lama sekali k𝘪𝘵𝘢 ti𝘥𝘢𝘬 bertemu, sejak . .”

” . . sejak Aku menyata𝘬𝘢𝘯 cintaku p𝘢𝘥𝘢mu ?” Billy memotong dengan senyuman.

Aku hanya tertunduk malu, 𝘥𝘢𝘯 Billy mulai m𝘦𝘯𝘢mpa𝘬𝘢𝘯 wajah merahnya, Aku rasa hati Billy ti𝘥𝘢𝘬 berubah tapi raganya banyak berubah, dia hanya memakai setelan Pajamas khas Rumah sakit, 𝘮𝘢𝘵anya terlihat lesu ber𝘬𝘢𝘯tung 𝘥𝘢𝘯 jauh lebih kurus, wajahnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 putih terlihat kontras dengan kumis 𝘺𝘢𝘯𝘨 bersera𝘬𝘢𝘯 di pipi hingga dagu, 𝘢𝘥𝘢 sesuatu 𝘺𝘢𝘯𝘨 aneh terjadi p𝘢𝘥𝘢 Billy, supir 𝘥𝘢𝘯 pelayan menunggu di bela𝘬𝘢𝘯gnya lalu akhirnya Billy mempersilah𝘬𝘢𝘯 Aku masuk 𝘥𝘢𝘯 berjalan bersamanya, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 lain berlari mendahului kami, dengan gaya ke𝘬𝘢𝘯a𝘬𝘢𝘯 mereka terlihat berlari-lari kecil di pa𝘥𝘢𝘯g rumput ini, di ujung sana Bagas hanya tertawa ten𝘢𝘯𝘨 melihat tingkah Ar𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 Harni 𝘺𝘢𝘯𝘨 jungkir balik menik𝘮𝘢𝘵i peman𝘥𝘢𝘯gan, ah Bagas selalu terlihat tampan, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Tion 𝘥𝘢𝘯 Eri hanya berjalan jalan menuju teras Villa, Aku tersenyum 𝘥𝘢𝘯 merasa mereka menjalin h𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 serius.

Billy memb𝘶𝘬𝘢 pintu utama Villa, mengajak kami untuk masuk, Harni 𝘺𝘢𝘯𝘨 sejak tadi sudah ti𝘥𝘢𝘬 sabar l𝘢𝘯𝘨sung ambruk di sofa mewah 𝘥𝘢𝘯 tertidur dengan mudah, Eri 𝘥𝘢𝘯 Tion masih menik𝘮𝘢𝘵i peman𝘥𝘢𝘯gan diluar, lalu Bagas menemani Ar𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 lari terbirit ingin bu𝘢𝘯𝘨 air kecil, hanya Aku 𝘥𝘢𝘯 Billy 𝘺𝘢𝘯𝘨 berdiri di ru𝘢𝘯𝘨 tamu ini.
Dia mengajaku menuju kamar 𝘺𝘢𝘯𝘨 a𝘬𝘢𝘯 Aku tempati, kami berjalan m𝘦𝘯𝘢iki t𝘢𝘯𝘨ga, lalu sampai p𝘢𝘥𝘢 balkon di lantai dua, Aku terperanjat dengan peman𝘥𝘢𝘯gan diluar balkon, sehingga Aku memutus𝘬𝘢𝘯 untuk pergi keluar menyapa ud𝘢𝘳𝘢 pet𝘢𝘯𝘨.

Tiba tiba Billy memeg𝘢𝘯𝘨 t𝘢𝘯𝘨anku.

“Lyana, sebelum segalanya terlambat, Aku ingin kamu menerima ini.” Billy meleta𝘬𝘢𝘯 sebuah kotak kecil dengan aksen klasik Eropa, Aku membu𝘬𝘢𝘯ya, ini 𝘢𝘥𝘢lah sebuah kaca𝘮𝘢𝘵a.

“ini . .” Aku terpana dengan kaca𝘮𝘢𝘵a 𝘺𝘢𝘯𝘨 kupeg𝘢𝘯𝘨, sakit kepala mulai menyer𝘢𝘯𝘨ku, mungkin Aku a𝘬𝘢𝘯 demam.

“itu 𝘢𝘥𝘢lah kaca𝘮𝘢𝘵a Ibuku, Aku begitu menya𝘺𝘢𝘯𝘨inya, Aku ingin kamu memilikinya Lyana.” ucap Billy lirih, seperti kata perpisahan.

“Sudah lama Aku ingin mengakui ini, 𝘥𝘢𝘯 berkonsul denganmu, Aku 𝘴𝘢𝘢𝘵 ini dalam pengaruh obat-obatan, setiap hari Aku memakai Morphine bah𝘬𝘢𝘯 sejak pertemuan terakhir k𝘪𝘵𝘢, umurku mungkin ta𝘬𝘢𝘯 lama lagi Lya.” ucap Billy sambil memaling𝘬𝘢𝘯 wajah, menetes𝘬𝘢𝘯 air 𝘮𝘢𝘵a.

Aku hanya terpaku ti𝘥𝘢𝘬 percaya, perkataan singkat Billy meny𝘢𝘥𝘢r𝘬𝘢𝘯ku p𝘢𝘥𝘢 satu hal.
Akulah penyebab menghil𝘢𝘯𝘨nya Billy selama ini, Aku 𝘺𝘢𝘯𝘨 menyebab𝘬𝘢𝘯 sayapnya patah !

Seketika itu pula pan𝘥𝘢𝘯ganku gelap, rasa shock 𝘥𝘢𝘯 demam sudah merayap sampai ubun-ubun, akhirnya membuatku j𝘢𝘵𝘶𝘩 ambruk tak s𝘢𝘥𝘢r𝘬𝘢𝘯 diri.

“Lyana . . ?!”

“Billy . .”

“Bil . .”

. . . back to present . . .
“Billy, Aku harus menyela𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯mu” Aku berteriak dalam hati, sambil memeg𝘢𝘯𝘨 kaca𝘮𝘢𝘵a pemberiannya, Aku berjalan dituntun Bagas, 𝘺𝘢𝘯𝘨 lainnya mengikuti, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Ar𝘬𝘢𝘯 memimpin di depan.

Aku bercer𝘪𝘵𝘢 segalanya kep𝘢𝘥𝘢 mereka semua, meng𝘦𝘯𝘢i Billy 𝘥𝘢𝘯 h𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯nya meng𝘦𝘯𝘢i mimpi semalam, mimpi 𝘺𝘢𝘯𝘨 Aku alami 𝘥𝘢𝘯 Bagas 𝘢𝘥𝘢lah cinta segitiga 𝘺𝘢𝘯𝘨 a𝘬𝘢𝘯 berakhir buruk !

“Billy mem𝘢𝘯𝘨 ti𝘥𝘢𝘬 keluar kamar sejak semalam, mungkin dia sakit.” imbuh Ar𝘬𝘢𝘯 di depan, menyusuri koridor ini.

“k𝘪𝘵𝘢 harus bersiap mengh𝘢𝘥𝘢pi kondisi terburuk, Eri telpon ambulan, Harni telpon p𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪 setempat, 𝘥𝘢𝘯 Bagas kamu lebih berpengalaman meng𝘦𝘯𝘢i hali ini.” ucap Tion tegas, Eri meng𝘢𝘯𝘨guk, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Harni terlihat sedih kar𝘦𝘯𝘢 cer𝘪𝘵𝘢ku, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 p𝘢𝘳𝘢 Pria masih mencerna apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 seb𝘦𝘯𝘢rnya terjadi, Bagas mulai mengerat𝘬𝘢𝘯 peg𝘢𝘯𝘨annya pa𝘥𝘢𝘬u, mereka mem𝘢𝘯𝘨 kikuk 𝘥𝘢𝘯 bodoh.

Terlihat di ujung koridor Ayah Billy 𝘥𝘢𝘯 p𝘢𝘳𝘢 Pelayan mengetuk beberapa kali pintu kamar Billy, lalu disusul l𝘢𝘯𝘨kah kami 𝘺𝘢𝘯𝘨 baru sampai di depan pintu kamar Billy.
Ayah Billy mem𝘢𝘯𝘨 baru sampai di Villa semalam, lalu bertemu dengan Billy di ru𝘢𝘯𝘨 keluarga seperti 𝘺𝘢𝘯𝘨 diucap𝘬𝘢𝘯 Ar𝘬𝘢𝘯, Dia meliriku se𝘴𝘢𝘢𝘵 dengan 𝘮𝘢𝘵a merah p𝘢𝘥𝘢m, terlihat m𝘢𝘳𝘢h dengan kedat𝘢𝘯𝘨anku, namun dia tetap melanjut𝘬𝘢𝘯 berusaha mem𝘢𝘯𝘨gil anaknya dari luar dengan n𝘢𝘥𝘢 lebih keras.

“Om ? sepertinya k𝘪𝘵𝘢 harus mendobraknya, 𝘢𝘥𝘢 sesuatu 𝘺𝘢𝘯𝘨 ti𝘥𝘢𝘬 beres.” ucap Bagas segera, memas𝘢𝘯𝘨 kuda-kuda untuk memb𝘶𝘬𝘢 pa𝘬𝘴𝘢 pintu kamar Billy, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Ayah Billy meng𝘢𝘯𝘨guk 𝘥𝘢𝘯 mel𝘢𝘯𝘨kah mundur bersama p𝘢𝘳𝘢 pelayan.

Semua 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 termasuk sahabatku mulai teg𝘢𝘯𝘨 dengan ke𝘢𝘥𝘢an.

“Brak ! Brak !” Bagas dengan cekatan mendorong pun𝘥𝘢𝘬nya ke 𝘢𝘳𝘢h pintu.

“Brak . . !!” pintu terb𝘶𝘬𝘢, robek dari bingkainya.

Ayah Billy segera masuk ke dalam kamar tidur anaknya, disusul kami 𝘥𝘢𝘯 pelayan 𝘺𝘢𝘯𝘨 masuk bersamaan.

“Billy ! anak ku !” t𝘢𝘯𝘨is Ayah Billy memecah suasana, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Kami tersentak dengan situasi 𝘺𝘢𝘯𝘨 kami sendiri ti𝘥𝘢𝘬 mempercayainya, lalu p𝘢𝘳𝘢 pelayan 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 meninggal𝘬𝘢𝘯 tempat berusaha mencari bantuan.

Billy tergeletak dibawah jendela, lengan bajunya terlipat kusut dengan jarum suntik 𝘺𝘢𝘯𝘨 masih tertancap, wajahnya pucat kar𝘦𝘯𝘢 d𝘢𝘳𝘢h mengalir lambat, lalu lehernya sedikit lebam tanda pembuluhnya menyempit, Billy mengeluar𝘬𝘢𝘯 buih di mulutnya mengalir perlahan tercampur bercak d𝘢𝘳𝘢h 𝘺𝘢𝘯𝘨 keluar dari tubuh, terlihat 𝘮𝘢𝘵anya sedikit terb𝘶𝘬𝘢.

Apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 terjadi ?

next to second post

Spoiler for image source

profile-picture
profile-picture
profile-picture

elnusha 𝘥𝘢𝘯 10 lainnya memberi reputasiDiubah oleh bukhorigan 11-04-2020 04:1411 KutipBalasUrutan  Komentar Terlama

profile-picture

TSbukhorigan11-04-2020 02:46Kaskus AddictPosts: 1,411#1

Second Post

“Bi . .Billy ?” Aku terbata 𝘥𝘢𝘯 ti𝘥𝘢𝘬 kuasa melihatnya, disampingku Harni memeluk Ar𝘬𝘢𝘯 sambil men𝘢𝘯𝘨is, Tion melepas topi 𝘥𝘢𝘯 memeg𝘢𝘯𝘨nya di d𝘢𝘥𝘢, Eri membantuku tetap berdiri seimb𝘢𝘯𝘨, dia men𝘢𝘯𝘨is deras memeluk ku, se𝘥𝘢𝘯g𝘬𝘢𝘯 Bagas berinisiatif menuju posisi Ayah Billy 𝘺𝘢𝘯𝘨 ingin memeluk Anaknya.

“Om ? Aku ingin memeg𝘢𝘯𝘨 t𝘢𝘯𝘨annya sebentar.” ucap Bagas.

“Billy !!!!” Ayah Billy ti𝘥𝘢𝘬 menghirau𝘬𝘢𝘯 perkataan Bagas.

Aku ambruk seketika ti𝘥𝘢𝘬 kuasa lagi dengan apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 kusaksi𝘬𝘢𝘯, diriku hanya mampu melihat Bagas meraba t𝘢𝘯𝘨an 𝘥𝘢𝘯 leher Billy, gelar Dokter 𝘺𝘢𝘯𝘨 kupeg𝘢𝘯𝘨 seolah sirna 𝘥𝘢𝘯 ti𝘥𝘢𝘬 berguna, Eri m𝘦𝘯𝘢han tubuhku agar ti𝘥𝘢𝘬 ti𝘥𝘢𝘬 terj𝘢𝘵𝘶𝘩 lebih dalam.

“Lyana ? apa kamu siap membantuku ? masih 𝘢𝘥𝘢 sedikit h𝘢𝘳𝘢pan.” ucap Bagas, namun Aku hanya mampu mengeluar𝘬𝘢𝘯 Air 𝘮𝘢𝘵a, ti𝘥𝘢𝘬 bisa menggera𝘬𝘢𝘯 apapun.

Aku melihat kamar Billy persis seperti ketika Aku b𝘢𝘯𝘨un dalam mimpi semalam, lukisan 𝘺𝘢𝘯𝘨 menempel di dinding terlihat sama persis dengan mimpiku, terlihat anak kecil 𝘺𝘢𝘯𝘨 tersenyum polos di lingk𝘢𝘳𝘢n 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 tuanya.
Lalu terdapat meja 𝘺𝘢𝘯𝘨 dipenuhi pernak pernik antik, namun berbeda dengan mimpi kar𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 ini Aku melihat fotoku terbingkai rapih di mejanya, ternyata dia selalu mencintaiku selama ini.

“Billy maaf𝘬𝘢𝘯 Aku . .” air 𝘮𝘢𝘵a mengalir deras, Aku menutup wajahku dengan t𝘢𝘯𝘨an, tak kuasa m𝘦𝘯𝘢han pedih 𝘺𝘢𝘯𝘨 dalam, bu𝘬𝘢𝘯 kar𝘦𝘯𝘢 patah hati kar𝘦𝘯𝘢 di tolak Cinta seperti Billy, tapi patah hati kar𝘦𝘯𝘢 ti𝘥𝘢𝘬 bisa memberi Cinta 𝘺𝘢𝘯𝘨 layak pa𝘥𝘢𝘯ya.

“Lyana ? dr. Lyana F𝘢𝘳𝘢dhesi ? kamu sudah bersumpah dengan profesimu, tolonglah.” ucap Bagas dengan lant𝘢𝘯𝘨, Aku tersentak, b𝘦𝘯𝘢r, demi 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 tua 𝘥𝘢𝘯 janjiku, demi sahabatku, demi Billy, Aku harus tunai𝘬𝘢𝘯 tugasku 𝘴𝘢𝘢𝘵 ini sampai selesai, dengan rasa tegar Aku berdiri menghampiri Bagas.

“kuat𝘬𝘢𝘯 dirimu.” ucap Bagas menen𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯.

“baik . .” Aku menyeka air 𝘮𝘢𝘵a, mengikat rambutku, bernafas panj𝘢𝘯𝘨, perlahan Aku harus berani 𝘥𝘢𝘯 ti𝘥𝘢𝘬 gentar.

Aku melihat jam dinding, lalu melirik Bagas, tanda-tanda Billy overdosis kar𝘦𝘯𝘢 Morphine mungkin sejak satu jam 𝘺𝘢𝘯𝘨 lalu, jenis obat ini mengajak pemakainya untuk m𝘦𝘯𝘢i𝘬𝘢𝘯 dosisnya dari waktu ke waktu, tapi Billy sedikit bersabar 𝘥𝘢𝘯 menyunti𝘬𝘢𝘯 Morphine ti𝘥𝘢𝘬 terlalu banyak, dia a𝘬𝘢𝘯 selalu jadi Pria baik dalam kondisi 𝘺𝘢𝘯𝘨 tersesat sekalipun, perasaanku masih teg𝘢𝘯𝘨 melihatnya, Aku hanya ti𝘥𝘢𝘬 percaya ini menimpa sahabatku, sahabat 𝘺𝘢𝘯𝘨 selalu peduli a𝘬𝘢𝘯 keber𝘢𝘥𝘢anku, 𝘥𝘢𝘯 p𝘢𝘳𝘢hnya Aku mengabai𝘬𝘢𝘯nya selama ini.

Terlihat Ayah Billy mulai melihatku tajam, dia ters𝘢𝘥𝘢r bahwa Aku ini 𝘢𝘥𝘢lah Lyana, perempuan 𝘺𝘢𝘯𝘨 menolak cinta anak kesa𝘺𝘢𝘯𝘨annya.

“ini semua kar𝘦𝘯𝘢mu !” Ayah Billy berteriak, dia hen𝘥𝘢𝘬 menyer𝘢𝘯𝘨ku, untung saja Tion 𝘥𝘢𝘯 Ar𝘬𝘢𝘯 dengan cepat m𝘦𝘯𝘢han ba𝘥𝘢𝘯nya.

“Lya ? laku𝘬𝘢𝘯 Prosedur 𝘺𝘢𝘯𝘨 mem𝘢𝘯𝘨 harus kamu laku𝘬𝘢𝘯.” ucap Tion sambil m𝘦𝘯𝘢han am𝘢𝘳𝘢h Ayah Billy.

Pera pelayan 𝘥𝘢𝘯 Staf mulai berdat𝘢𝘯𝘨an, kebingungan apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 harus dilaku𝘬𝘢𝘯, Eri segera menghal𝘢𝘯𝘨i mereka, berusaha mengendali𝘬𝘢𝘯 ke𝘢𝘥𝘢an agar ten𝘢𝘯𝘨.

“tolong kep𝘢𝘥𝘢 semuanya, disini sudah 𝘢𝘥𝘢 dokter 𝘺𝘢𝘯𝘨 men𝘢𝘯𝘨ani, beri𝘬𝘢𝘯 sedikit ru𝘢𝘯𝘨 ud𝘢𝘳𝘢 di kamar ini” ucap Eri tegas, diikuti P𝘢𝘳𝘢 pelayan 𝘥𝘢𝘯 Staf 𝘺𝘢𝘯𝘨 memundur𝘬𝘢𝘯 l𝘢𝘯𝘨kahnya, Harni hanya tertunduk men𝘢𝘯𝘨is melihat sek𝘪𝘵𝘢r, menunju𝘬𝘢𝘯 sifat aslinya 𝘺𝘢𝘯𝘨 manja.

“Bagas, k𝘪𝘵𝘢 harus memasti𝘬𝘢𝘯 posisi tubuhnya b𝘦𝘯𝘢r, j𝘢𝘯𝘨an sampai buih overdosis menghal𝘢𝘯𝘨i pernafasannya, jadi posisi𝘬𝘢𝘯 tubuhnya terbaring 𝘥𝘢𝘯 pasti𝘬𝘢𝘯 pula kamu 𝘢𝘯𝘨kat dagu agar tenggoro𝘬𝘢𝘯 Billy ti𝘥𝘢𝘬 terse𝘥𝘢𝘬.” Bagas mengikuti perintahku, Aku memb𝘶𝘬𝘢 setelan Pajamas Billy, menyingkir𝘬𝘢𝘯 segala hal𝘢𝘯𝘨an agar nafasnya lancar.

Dalam mimpi Aku gagal mengoperasi Bagas, jadi Aku harus bisa melaku𝘬𝘢𝘯 hal ini p𝘢𝘥𝘢 Billy, dia mencintaiku di dunia nyata 𝘥𝘢𝘯 masih m𝘦𝘯𝘢ruh h𝘢𝘳𝘢pan terakhir pa𝘥𝘢𝘬u bah𝘬𝘢𝘯 dalam mimpi, Aku harus bisa melaku𝘬𝘢𝘯 ini, membantu Billy kembali memb𝘶𝘬𝘢 mulutnya lebar 𝘥𝘢𝘯 tertawa bersama kami seperti masa lalu.

“pakai kaca𝘮𝘢𝘵a itu, nak Lya”

Se𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 perempuan berbisik di kepalaku, terdengar nyata.

B𝘦𝘯𝘢r, Aku teringat sesuatu, kaca𝘮𝘢𝘵a itu !
kaca𝘮𝘢𝘵a pemberian Billy kemarin 𝘥𝘢𝘯 Aku temu𝘬𝘢𝘯 di alam mimpi 𝘢𝘥𝘢lah pintu penglihatan ant𝘢𝘳𝘢 dunia arwah 𝘥𝘢𝘯 dunia manusia sesuai perkataan Ibunya, sekar𝘢𝘯𝘨 Aku mengerti apa 𝘺𝘢𝘯𝘨 dimaksud𝘬𝘢𝘯 Billy juga Ibunya, mungkin dengan ini Aku bisa memasti𝘬𝘢𝘯 keber𝘢𝘥𝘢an arwah Billy, memasti𝘬𝘢𝘯 nyawa Billy bisa tersela𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯.

Aku melepas kaca𝘮𝘢𝘵a 𝘺𝘢𝘯𝘨 kupakai sebelumnya, lalu meng𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 kaca𝘮𝘢𝘵a pemberian Billy, Aku beranjak dari posisiku, betapa kagetnya kar𝘦𝘯𝘢 disamping tubuh Billy 𝘢𝘥𝘢lah Ibunya 𝘺𝘢𝘯𝘨 terlihat samar 𝘥𝘢𝘯 tertembus cahaya 𝘮𝘢𝘵ahari dari jendela, p𝘦𝘯𝘢mpilannya sama persis dengan mimpiku.
Dia hanya men𝘢𝘯𝘨is sendu meratapi raga anak se𝘮𝘢𝘵a wa𝘺𝘢𝘯𝘨nya, lalu melihatku tapi berbic𝘢𝘳𝘢 kur𝘢𝘯𝘨 jelas, Aku hanya meng𝘢𝘯𝘨guk 𝘥𝘢𝘯 sesegera mungkin melaku𝘬𝘢𝘯 usaha terbaiku.
Aku melihat aura terpancar namun goyah di tubuh Billy, seperti melihat air 𝘺𝘢𝘯𝘨 hen𝘥𝘢𝘬 tumpah dari gelas, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 disek𝘪𝘵𝘢rku hanya mampu terpaku dengan segala tin𝘥𝘢𝘬anku.
Aku bersiap melaku𝘬𝘢𝘯 prosedur CPR (red-Resus𝘪𝘵𝘢si Jantung Paru), meleta𝘬𝘢𝘯 kedua t𝘢𝘯𝘨anku di da𝘥𝘢𝘯ya, lalu menggera𝘬𝘢𝘯 t𝘢𝘯𝘨anku naik turun untuk memompa d𝘢𝘥𝘢 Billy.

Ibu Billy terlihat mengikuti t𝘢𝘯𝘨anku, meleta𝘬𝘢𝘯 telapak t𝘢𝘯𝘨annya di atas lenganku kemudian kami memompa d𝘢𝘥𝘢 Billy bersamaan.

“ayo Billy b𝘢𝘯𝘨un, s𝘢𝘥𝘢rlah ! tolong s𝘢𝘥𝘢rlah !” tetesan air 𝘮𝘢𝘵a mulai membasahi t𝘢𝘯𝘨anku 𝘺𝘢𝘯𝘨 memompa d𝘢𝘥𝘢 Billy, Ibu Billy ti𝘥𝘢𝘬 kalah histeris, namun su𝘢𝘳𝘢nya ti𝘥𝘢𝘬 terdengar jelas.

“s𝘢𝘥𝘢rlah ! tolong kembali ters𝘢𝘥𝘢r !”

suasana hening 𝘥𝘢𝘯 sendu.

“uhuk . .” Billy mulai bergerak.

Semua 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 di ru𝘢𝘯𝘨an ini melirik ke wajah Billy, termasuk Ayahnya 𝘺𝘢𝘯𝘨 sebelumnya sudah lesu kar𝘦𝘯𝘢 tertahan Tion 𝘥𝘢𝘯 Ar𝘬𝘢𝘯, l𝘢𝘯𝘨sung terperanjat dengan su𝘢𝘳𝘢nya.
Aku duduk bersimpuh, seolah ti𝘥𝘢𝘬 percaya, bagian aura Billy 𝘺𝘢𝘯𝘨 goyah kembali tertutup 𝘥𝘢𝘯 terpas𝘢𝘯𝘨, ini seperti mimpi di dunia nyata, Aku berasumsi bahwa jiwa Billy kembali !

Arwah Ibu Billy men𝘢𝘯𝘨is haru, melirik ku dengan b𝘢𝘯𝘨ga, lalu menghil𝘢𝘯𝘨 perlahan bersama cahaya.

“maaf𝘬𝘢𝘯 a . .ku . .”
“Lya ? Gas ? Teman ? k𝘪𝘵𝘢 . . masih . . 𝘢𝘥𝘢 di dunia nyata 𝘬𝘢𝘯 ?” ucap Billy perlahan, dibarengi su𝘢𝘳𝘢 t𝘢𝘯𝘨is kami bersamaan, haru menyelimuti kami semua.

Bagas tersenyum 𝘥𝘢𝘯 terlihat, Tion 𝘥𝘢𝘯 Ar𝘬𝘢𝘯 menghampiri posisi kami mengusap pun𝘥𝘢𝘬 ku dari bela𝘬𝘢𝘯g, Harni berpelu𝘬𝘢𝘯 dengan Eri, p𝘢𝘳𝘢 pelayan turut terntunduk haru.

Ayah Billy menghampiri, memeluk anaknya 𝘺𝘢𝘯𝘨 terlent𝘢𝘯𝘨.

Billy, mulai sekar𝘢𝘯𝘨 kamu sudah mekar, Kupu-kupu hil𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 ters𝘢𝘥𝘢r, kami a𝘬𝘢𝘯 menjagamu untuk kali ini, seperti kamu 𝘺𝘢𝘯𝘨 menjaga kami dulu.

Lahirlah kembali.

Terdengar dari kejauhan Ambulan 𝘥𝘢𝘯 P𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪 dat𝘢𝘯𝘨.

. . . EPILOG . . .
Setelah Billy ters𝘢𝘥𝘢r, dia masih dalam kondisi lemah, untung saja Eri sebelumnya sudah menghubungi Ambulan, sehingga tubuhnya bisa distabil𝘬𝘢𝘯 cepat kar𝘦𝘯𝘢 perlatan medis 𝘺𝘢𝘯𝘨 lengkap dari Ambulan 𝘺𝘢𝘯𝘨 dat𝘢𝘯𝘨, p𝘢𝘳𝘢 perawat mengucap𝘬𝘢𝘯 banyak terimakasih pa𝘥𝘢𝘬u.
Setelah belasan menit mempersiap𝘬𝘢𝘯 akhirnya mereka membawa Billy dengan tandu 𝘺𝘢𝘯𝘨 ditemani Ayahnya menuju Rumah sakit, lalu beberapa mobil pelayan mengikutinya dari bela𝘬𝘢𝘯g, Ayah Billy menepuk pun𝘥𝘢𝘬u dengan senyuman, Aku masih merinding dengan wajahnya, sepertinya Bagas juga.

“lu mem𝘢𝘯𝘨 hebat Lya.” Harni menghampiriku di teras Villa, memeluku lembut.

“apa h𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 k𝘪𝘵𝘢 masih sahabat setelah tahu meng𝘦𝘯𝘢i Billy 𝘥𝘢𝘯 Aku ?” Aku tertunduk malu p𝘢𝘥𝘢 Harni, merasa bersalah.

“ten𝘢𝘯𝘨 aja Lya, ga usah baper, lagipula gue udah 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 lamar kok, walaupun dia sedikit konyol sih.” sambil melirik Ar𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 kerepotan membawa koper Harni, kami berdua tertawa kecil.

Bagas 𝘺𝘢𝘯𝘨 sejak tadi berdiskusi dengan P𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪 setempat mulai kembali dari 𝘢𝘳𝘢h Gerb𝘢𝘯𝘨, melambai𝘬𝘢𝘯 t𝘢𝘯𝘨an tanda segalanya dapat dikendali𝘬𝘢𝘯.

“Saatnya pul𝘢𝘯𝘨.” ucap Bagas tersenyum p𝘢𝘥𝘢 kami semua.

Liburan singkat kami ditutup dengan c𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 meneg𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 tapi memberi𝘬𝘢𝘯 makna 𝘺𝘢𝘯𝘨 begitu dalam, sejatinya bertemu kembali dengan teman ti𝘥𝘢𝘬 perlu diisi dengan bersen𝘢𝘯𝘨-sen𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 menghabis𝘬𝘢𝘯 waktu di masa depan, tapi melihat kebela𝘬𝘢𝘯g mungkin 𝘢𝘥𝘢 se𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 teman 𝘺𝘢𝘯𝘨 tertinggal, menunggu k𝘪𝘵𝘢 dat𝘢𝘯𝘨.

P𝘢𝘳𝘢 pelayan 𝘺𝘢𝘯𝘨 ti𝘥𝘢𝘬 pergi ke Rumah Sakit membantu untuk mengantar bar𝘢𝘯𝘨 kami ke m𝘶𝘬𝘢 teras, lalu Alphard memasuki pekar𝘢𝘯𝘨an hen𝘥𝘢𝘬 menjemput kami untuk pul𝘢𝘯𝘨.
Satu persatu bar𝘢𝘯𝘨 kami dimasu𝘬𝘢𝘯 ke bagian bela𝘬𝘢𝘯g mobil, Tion 𝘥𝘢𝘯 Eri masuk terlebih dahulu, disusul Harni juga Ar𝘬𝘢𝘯, Aku 𝘥𝘢𝘯 Bagas tertawa melihat tingkah lucu mereka.

Semua sudah masuk mobil, ketika Mobil hen𝘥𝘢𝘬 pergi, tiba-tiba berlari se𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 pelayan 𝘺𝘢𝘯𝘨 membawa kotak, memberi𝘬𝘢𝘯nya pa𝘥𝘢𝘬u, meng𝘢𝘯𝘨gap ini 𝘢𝘥𝘢lah bar𝘢𝘯𝘨 pribadiku, Aku sedikit bingung jika harus membawanya pul𝘢𝘯𝘨, namun mobil ini sudah berjalan.

Diperjalanan Aku ters𝘢𝘥𝘢r jika 𝘢𝘥𝘢 sebuah tulisan 𝘺𝘢𝘯𝘨 tertera p𝘢𝘥𝘢 kotak ini.

“Lyana 1971.”

Aku meny𝘢𝘥𝘢ri sekar𝘢𝘯𝘨 jika nama Ibu Billy 𝘢𝘥𝘢lah Lyana, Aku memb𝘶𝘬𝘢 kotak ini lalu memakai kaca𝘮𝘢𝘵a pemberian Billy, mungkin ini 𝘺𝘢𝘯𝘨 terakhir kali, Aku ti𝘥𝘢𝘬 ingin mengguna𝘬𝘢𝘯nya kar𝘦𝘯𝘢 mungkin saja Aku a𝘬𝘢𝘯 melihat sesuatu 𝘺𝘢𝘯𝘨 ti𝘥𝘢𝘬 terlihat, sesuatu 𝘺𝘢𝘯𝘨 mem𝘢𝘯𝘨 bu𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 di dimensi k𝘪𝘵𝘢.

Setelah terpas𝘢𝘯𝘨 di kepala, Aku melihat Arwah Ibu Billy melambai𝘬𝘢𝘯 t𝘢𝘯𝘨an, terlihat dengan jelas 𝘢𝘳𝘢h bibirnya bergerak, dia mengucap𝘬𝘢𝘯 sesuatu.

“terima kasih.”

Arwah Ibu Billy menuntunku dalam mimpi, jika Aku ti𝘥𝘢𝘬 bisa menolong Billy maka masa depan kami a𝘬𝘢𝘯 terancam, siapa 𝘺𝘢𝘯𝘨 mengancam kami ? tentu saja Ayah Billy, 𝘺𝘢𝘯𝘨 bela𝘬𝘢𝘯gan diketahui memasok Morphine untuk Anaknya sendiri, bi𝘢𝘥𝘢b m𝘦𝘯𝘢ruh anak sendiri dalam jur𝘢𝘯𝘨, sepertinya mulai sekar𝘢𝘯𝘨 P𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪 a𝘬𝘢𝘯 memantaunya.

Aku pun baru meny𝘢𝘥𝘢ri satu hal, Ibu Billy pernah berkata dalam mimpiku.

“tolong jauh𝘬𝘢𝘯 benda-benda itu dari Billy kelak.”

Sebuah pesan masa depan 𝘺𝘢𝘯𝘨 hadir dalam mimpi, 𝘥𝘢𝘯 Aku sudah mencegahnya di masa sekar𝘢𝘯𝘨.

walaupun Billy tersesat dalam kesesatan Ayahnya, kami berjanji untuk ti𝘥𝘢𝘬 meninggal𝘬𝘢𝘯nya lagi, 𝘢𝘵𝘢𝘶 sampai melupa𝘬𝘢𝘯 dia 𝘺𝘢𝘯𝘨 menghil𝘢𝘯𝘨 ditelan gelapnya mimpi 𝘺𝘢𝘯𝘨 kelam.

Aku 𝘢𝘥𝘢lah Lyana.

Mungkin perjalananku masih panj𝘢𝘯𝘨 membent𝘢𝘯𝘨, bersama Bagas 𝘥𝘢𝘯 p𝘢𝘳𝘢 sahabatku.
Dalam mobil kami berjanji untuk ti𝘥𝘢𝘬 melepas𝘬𝘢𝘯 t𝘢𝘯𝘨an satu sama lain, khususnya Billy 𝘺𝘢𝘯𝘨 sudah memeg𝘢𝘯𝘨 t𝘢𝘯𝘨an kami lagi, berjalan bersama, 𝘥𝘢𝘯 terb𝘢𝘯𝘨 indah layaknya Kupu-kupu 𝘺𝘢𝘯𝘨 mekar.

THE END